Monday, December 8, 2008

Gagal Maning....Gagal maning!!!!

Hidup ini terasa membosankan.... Udah capek-capek ditunjuk ma skul buat ikutan lomba.Eh, gagal menang juga. haduh, kapan donx aq bisa membuktikan ke orang tua, guru-guru and temen-temen q kalo aku tuh BISA dan MENANG....

Lomba Pertama, yaitu Olimpiade Debat APBN. busyet, dilihat dari namanya aja aq sebenarnya ogah ikutan. Tapi apa daya, skulah dah menunjukku untuk ikutan lomba ini. Okey lah, TM dilaksanakan tgl 6 Nov kemaren di STIKOSA AWS. Jauh pe' kesana mpe nyasar" lagi. Waduh, bnr" pengorbanan yang sangat. Okey lah, nyampe disana ketemu lah ma temen SMP q, eh ternyata dia gak nyapa. Hwaduh, mungkin dia udah tau kalo misalnya level sekolah kita berbeda. Dy SMA kompleks, sedangkan aku hanyalah siswa di sekolah pinggiran.....

Lomba dimulai tanggal 28 Nov di Fakultas Ilmu Budaya UNAIR. Bujubuneng, aq bru pertama ntu masuk kesana. Kampusnya bo' .....Kebanggaan BGT...Aq janji bklan haruz bisa masuk situ!!!
Dag...dig....dug....Lomba dimulai. Busyet barusan masuk udah 3 kali pipis bo' saking mindernya!! pas lomba, g uenak buanget. Maca' tim SMAN 11 dikacangin gitu ja... Mualez q!!! Tapi ta' apalah dibalik "dikacangin" ntu aq bisa lihat sesosok makhluk...bhe....pokoke TOP abiz....Mboh, capa namanya yang penting dy ntu anak SMA Al-Hikmah gitu loh...!!!

Pulang...Pulang dikasih makan "TEXAS CHICKEN" bo'..... JUjur ae, q lom pernah makan begituan. Hwehehehe. coz katanya UMIK ntu mah JUnk FOOd kagak boleh bwt kesehatan!Akhirnya, tim SMAN 11 SBY sukses MENANGiiiiizzzz.....!!

Lomba kedua, yaitu lomba DEBAT lagi....lagi lagi LOmba Debat....Debat koq Lomba-lomba teruz!!!Tema yang diangkat sebagai materi debat, menurutku lebih gampang coz mengenai Hak-hak oRanG yang Berkebutuhan Khusus... aq yakin bakalan menang coz ada guru pendampingnya gitu... beda dengan yang kemaren, yang kita hanya belajar" ndiri!!
Yah, Pak Chotib and Pak Cholik yang jadi pendampingnya. sumpeh, klo ma Pak Cholik ceh aq fine" ja. Tapi, klo ama Pak Chotib...Waduh,,medheni.Tapi enak c!

Lomba dilaksanakan di perpustakaan lt.5 UBAYA. Begitu msuk perpusnya. Bhe...ni tempat jualan laptop ato pa'an ceh!Banyak bgt gitu orang yang make laptop nde' sana... Busyet, tenang ja aq jg bawa laptop alias notebook alias BINDER. hwehehe. G usah minder,qi!!!!

Suasana lomba terasa lebih bersahabat dan kondusif. Kembali lagi, disana aku terpaksa terpaku lagi dengan seseorang makhluk lain asal SMAN 5 sby, yang akhirnya kuketahui bernama Dado....Tata DAdo kali,,hwehweheheh. Balik lagi ah ke perlombaan. Wez....Wez qi...qi....Awakmu iku koq ndelokane lanang tok <>

Lawan pertama, yaitu SMAN 4. Busyet, tuh cewek 3 cerewet" buangeth..Ngomongnya mpe kayak kereta api ae!!Hwehehe,,lawan kedua SMA Ciputra.Dger ja pasti tau, yang aq lawan ya ntu orang" Chinese...HUh,,lagaknya loh SOK BGT,,,kate' nggowo laptop barang!!!DEremmma Cong...cong.Upz, medhuro q metu...Hwehehehe.. Lawan ketiga, yaitu SMAN 14... Busyet, neh jga 3 cwek udah pada ngotot ja kagak pake landasan...ngecebret sa'enake dhewe mpe keluar dari sub temanya. hwahahaha, sa'noe.....

SIngkat cerita,,,, Tim Debat SMAN 11 yang digawangi oleh aq <>, Eunike and seorang adek kelas yang sangat q kagumi,,,Nefertiti ....Msuk ke Babak Semifinal

Hore...hore...hore.... Perjuangan masih lom berakhir. di semifinal, q ketemu ama tim SMAN 9 yang crewet....abizzzz!!! dan yang paling q sesali ialah performa ku yang sangat gak bisa dikatakan prima...Beban mental bo', udah gitu tengsin diliatin ma si Dado ntu....Alhasil, jadilah ngomongku beribet n belepotan....Hikz...hikzz..Maafkan aq Pak Cholik, Eunike and Nefer. Mungkin jika aq bisa lebih baik, pasti kita bisa masuk final and makan bareng deh!!!

Sekian dulu Curhatan Dariku.....!!!

Monday, June 2, 2008

Benarkah Kita Sudah Mengenal Diri Sendiri?

Dalam pergaulan kerap ditemui orang yang persepsi tentang dirinya sendiri tidak klop dengan kenyataan. Tapi umumnya orang mengatakan, saya paham betul siapa dirinya.

Semakin tua orang diharapkan semakin matang. Bisa diibaratkan seperti bawang, yang terkelupas kulitnya satu per satu, sehingga tidak perlu membentengi dirinya dengan segala macam kebohongan atau kepura-puraan. Ia tak perlu topeng, sehingga hidupnya lebih enak, lebih ringan, karena menjadi diri sendiri.

Tapi tidak demikian dengan Bu Intan. Ia tak pernah menampilkan diri apa adanya. Wanita pintar berambut lebat ini lebih suka menarik diri dari pergaulan karena tidak bisa berbahasa Inggris.

“Dibanding teman-teman, saya bukan apa-apa,” katanya. Ia minder, merasa dirinya tidak pantas diperhitungkan dan tempatnya di belakang, karena tidak pernah bisa berkomunikasi jika ada tamu bule. Maka Bu Intan selalu menyingkir atau pura-pura sakit jika harus bertemu orang dari negara lain.

Padahal teman-temannya tidak pernah menganggapnya remeh. Bu Intan bahkan sangat disukai dan dihormati, karena ia orang yang paling teliti dalam pekerjaan. Ia juga pendengar yang baik, sehingga menjadi tempat curhat teman-temannya.

Sayangnya hal-hal positif itu tidak dianggapnya penting, dan dia lebih menampilkan dirinya sebagai orang yang nilainya lebih rendah. Padahal, banyak orang lain yang tidak bisa bahasa Inggris tetap sukses dalam pekerjaan dan pergaulan.
Ini berkebalikan dengan Pak Badu, sebutlah begitu. Anak muda yang belum lama masuk dunia politik ini, menilai dirinya terlalu besar. Dengan posisi politik dan kedudukannya sebagai anggota DPR, ia mengira bisa mengatur negara dan menentukan ini itu seperti yang diinginkannya.

Di hadapan rekan-rekannya dalam suatu acara reuni misalnya, dia bisa berkata, “Oh, gampang itu. Saya akan atur nanti supaya si Itu dilepaskan dari kabinet dan diganti dengan si Ini.”

Dalam acara dengar pendapat dengan seorang penegak hukum yang reputasi, integritas, dan moralnya sangat bagus dia berkata, “Saya ingin menguji Saudara….,” atau bahkan, “Saya ingin menasihati Saudara….”

Mendengar itu semua, teman yang mengenal Pak Badu terheran-heran. “Dia itu siapa, kok, berani-beraninya bicara begitu kepada orang tua yang sangat disegani itu.” Temannya yang lain berkomentar, “Kasihan betul Badu ini, dia sudah tidak kenal lagi siapa dirinya.”

Kenyataan dan Asumsi
Mengapa orang bisa seperti itu? Mengapa harus membohong terus? Mungkin mereka dan bahkan kita sendiri mencoba tampil seperti yang kita kira bagus, tapi sebetulnya tidak sesuai dengan kenyataan diri kita.

Lalu, siapa diri kita sebenarnya? Apa yang kita tahu betul tentang diri kita? Apakah kita tahu tentang kelemahan dan kekuatan kita? Dan apa yang kita kira kita tahu tentang diri sendiri itu lantas terbukti atau sesuai dengan kenyataan? Kalau itu kelebihan, apakah orang lain juga mengakuinya? Dan kalau itu kita kira sebagai kekurangan, apakah orang lain juga mengakui itu kekurangan kita?

Semakin mendekati jarak antara kenyataan dengan apa yang kita asumsikan tentang diri kita, itu berarti baik karena kita mengenal diri sendiri. Begitu pula sebaliknya. Semakin jauh jarak antara kenyatan dengan apa yang kita perkirakan tentang diri sendiri, artinya buruk sekali pengenalan diri kita.

Apa akibatnya jika orang tidak kenal dirinya, sehingga jarak antara asumsi dan kenyataan tentang diri sendiri begitu jauh? Tak bisa lain, orang itu harus terus berusaha mengingkari kenyataan tentang dirinya. Barangkali dalam kenyataan sehari-hari muncul dan sering kita temui dalam bentuk over compensation, membual, melebih-lebihkan, atau bahkan mengecilkan orang lain untuk meninggikan diri sendiri, berbohong dan seterusnya jika merasa dirinya paling hebat. Ia tidak berpijak pada kenyataan, sehingga dalam bekerja biasanya hanya omong doang.

Begitu pula sebaliknya orang yang mengira diri sendiri negatif, akan sangat minder, menarik diri dari pergaulan, mengurung diri, tidak mau melakukan apa pun. “Apalah artinya saya, siapa yang mau mendengarkan saya,” adalah contoh ungkapan yang sering diucapkan orang dengan persepsi diri negatif. Orang ini sebetulnya sangat tertekan pada kelemahan dirinya.

Baik yang menilai dirinya terlalu tinggi maupun terlalu rendah, keduanya tidak sesuai kenyataan dan itu berarti jelek. Hal ini secara mental atau psikologis tidak sehat. Orang yang selalu pakai kedok akan capek, lalu memberikan stres yang besar pada diri sendiri.

Solusi
Dalam psikologi ada konsep yang disebut Johari Window atau Jendela Johari, yang menggambarkan pengenalan diri kita. Ada empat jendela dalam Jendela Johari.

(1) Jendela terbuka. Hal-hal yang kita tahu tentang diri sendiri, tapi orang lain pun tahu. Misalnya keadaan fisik, profesi, asal daerah, dan lain-lain.
(2) Jendela tertutup. Hal-hal mengenai diri kita yang kita tahu tapi orang lain tidak tahu. Misalnya isi perasaan, pendapat, kebiasaan tidur, dan sebagainya.
(3) Jendela buta. Hal-hal yang kita tidak tahu tentang diri sendiri, tapi orang lain tahu. Misalnya hal-hal yang bernilai positif dan negatif pada kepribadian kita.
(4) Jendela gelap. Hal-hal mengenai diri kita, tapi kita sendiri maupun orang lain tidak tahu. Ini adalah wilayah misteri dalam kehidupan.

Semakin besar daerah/jendela terbuka kita akan semakin baik, karena berarti kita mengenal diri secara baik. Orang yang memiliki daerah tertutup lebih besar akan mengalami kesulitan dalam pergaulan. Adapun mereka yang memiliki daerah buta sangat besar, bisanya akan membuat orang lain merasa kasihan.

Kepada orang yang kita kenal dekat, jendela itu harus dibuka semakin besar, juga bila kita ingin bekerjasama dengan orang lain. Bagaimana membuka jendela? Bagaimana kita bisa kenal diri sendiri? Bagaimana kita memiliki jendela terbuka yang semakin besar?

1. Bersedia menerima umpan balik, secara verbal maupun non-verbal.

a. Bersedialah untuk menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain tentang diri kita. Kalau ada orang yang memberikan kritik sangat pedas, ada baiknya dikaji. Jika merasa tidak benar, tanyakan, mengapa dia mengungkapkan hal itu, cari klarifikasi, dan bukan membalas menghajarnya atau mengkritik balik. Kritik adalah bentuk umpan balik yang berisi informasi negatif tentang diri kita, yang mungkin kita anggap kelemahan. Harusnya kritik itu berisi saran, karena kritik itu berarti menunjukkan kesalahan dan harus bisa memberitahu bagaimana jalan keluarnya

b. Kita juga harus mau lebih membuka diri. Ungkapkan kalau ada uneg-uneg, kekesalan, kejengkelan dan sebagainya. Bisa lisan bisa tertulis harus diungkapkan terus terang. Bisa juga kita membuka kekuatan atau kelemahan diri kita,dibagi kalau berupa kekuatan. Ini cara supaya orang lain lebih mengenali diri kita, dan kita pun makin tahu tentang diri sendiri. Kita tidak mungkin mengenali diri sendiri hanya dari muka cermin, tapi juga melalui orang lain supaya kita mendapat gema atau echo dari orang lain.

2. Bagaimana cara kita membuka diri? Banyak bergaul, berteman baik, memperluas hubungan interpersonal dan berkomunikasi. Dengan cara ini kita akan mendapat masukan dari banyak orang. Semakin luas pergaulan akan mendapat masukan lebih banyak mengenai diri kita.

Monday, January 21, 2008

SediHnyA REMIDI

Huwah.......

KeNapa HaruZ da ReMIdi seh???? MEmanG NiLai Harus DiPerBaiKi, Tetapi seorang GurU yaNg SeMesTinYa MENjadI SeOraNg PeNolOng Bak PahlAwaN tuh MeMbaNtu PaRa MuRidNYa aGar Gak PerLu tUh da ReMidI....KareNa ReMidI hanyA MeMbUat SiSwa TaMBah BinGuNg ...Apa Kah TIdak KasIhaN Para DewAn GurU KePaDa KaMi SeMua.... KamI SeMua YaNG TerAniAya...

TOloNg DeNGarKan AsPiRasi KaMi ini....!!!!

REmIDi...PeRgILah DikAu daRi HadapaN Para SiSwa.... PLIZ TUHAN!!!

SeteLah Ini....

MasIh AdAkah ReMIdI unTuk KamI SeLanjUtnYa?????